The Simple Life of Muhammad

Jika kita membandingkan kehidupan Nabi Muhammad SAW sebelum diangkat menjadi Rosul dengan kehidupan beliau setelah menjadi Rosul. Kita bisa menyimpulkan, adalah suatu kesalahan jika ada yang berfikir bahwa kenabian beliau bertujuan untuk mendapatkan kekayaan materi, kemegahan dan kekuasaan.

Sebelum diangkat menjadi Rosul, beliau tidak ada kekuatiran tentang masalah keuangan dan ekonomi. Sebagai seorang
pedagang yang sangat sukses, beliau mempunyai pendapatan (income) yang besar dan memuaskan. Setelah diangkat menjadi Rosul, secara ekonomi dan material berbeda dengan masa sebelum kenabian.
Untuk mengetahui lebih jelas, kita bisa lihat dari perkataan sahabat terdekatnya :
1. dari aisya, istri Nabi Muhammad SAW, berkata “ya keponaanku,kami biasa selama dua/tiga bulan tidak ada cahaya api
(untuk memasak makanan) di Rumah nabi”, keponakannya bertanya “ya bibi, apa yang menyokongmu (untuk makan)”, dia menjawab “dua buah kurma dan air, tetapi Nabi mempunyai sabahat anshor yang mempunyai susu unta dan diberikan ke Nabi”. [Note : semoga tidak salah mengartikan🙂 ]

2. dari Sahl Ibn Sa’ad, salah satu sahabat Nabi Muhammad SAW, berkata “Nabi Muhammad SAW tidak pernah melihat roti dari tepung/gandum yang bagus sejak diangkat menjadi Rosul sampai meninggal dunia'”. [Note : semoga tidak salah
mengartikan🙂 ]

3. Aisya, Isteri Nabi Muhammad SAW, berkata “Alas tempat tidur Nabi terbuat dari serat kulit pohon palm”.[Note : semoga tidak salah mengartikan🙂 ]

3. Amr Ibn Al-Harist, salah satu sahabat Nabi, berkata “Ketika Nabi meninggal dunia, beliau tidak meninggalkan uang
atau yang lain kecuali keledai tunggangannya dan sebidang tanah untuk disedekahkan”. [Note : semoga tidak salah
mengartikan🙂 ].

Nabi Muhammad SAW menjalani kehidupan keras sampai meninggal dunia, meskipun kunci-kunci kekayaan umat islam berada di tangannya, jazirah Arab sudah sangat luas dan kaum muslim mencapai kejayaannya setelah 18 tahun masa kenabian. apakah bisa Nabi Muhammad SAW sebagai rosul untuk hidup dalam kemewahan dan kekuasaan ? kemewahan dan kekuasaan yang diidentikkan dengan makanan yang lezat, pakaian yang mewah,istana yang megah, pengawal yang lengkap, kewenangan yang tidak terbatas. tentu beliau sangat bisa melakukannya, tetapi beliau tidak melakukannya.

Selain bertanggungjawab sebagi seorang Rosul, seorang guru, sebagai kepala negara dan sebagai hakim, beliau masih
memerah susu dombanya, menjahit bajunya, membantu pekerjaan rumahtangga dan mengunjungi fakir miskin ketika beliau sakit. Beliau juga membantu sahabatnya membuat parit dan mengangkat batu. Sungguh kehidupannya mencerminkan suatu kesederhanaan.

Tidak heran kalau para sahabatnya sangat mencintainya, menghormatinya dan mempercayainya. Beliau mengabdikan
hidupnya untuk Allah SWT, untuk kebaikan umat manusia, bukan untuk kebesaran namanya sendiri.

Jauh sebelum kejayaan Islam, saat pertama kali dakwah dimulai, ketika siksaan dan ancaman datang bertubi-tubi kepada
Nabi dan sahabat. Beliau mendapatkan tawaran yang sangat menarik. Seorang utusan dari pimpinan qurays berkata
“…Jika kamu ingin uang (kekayaan), kami akan mengumpulkan uang(kekayaan) untukmu sehingga kamu akan menjadi orang yang paling kaya diantara kami. Jika kamu ingin menjadi pemimpin, kamu akan kami angkat jadi pemimpin kami,sehingga kami tidak akan mengambil keputusan tanpa persetujuanmu. Jika kamu ingin kerajaan, kami akan menjadikanmu sebagai raja kami”…”hanya satu yang kami inginkan, berhentilah menyeru orang kepada Islam dan menyembah Allah yang satu. Bukankan ini suatu tawaran yang sangat menarik ? apakah Nabi Muhammad menjadi ragu-ragu setelah ada tawaran menarik tersebut ?

Berikut ini adalah jawaban beliau “Dengan menyebut nama Allah yang maha pengasih dan penyayang”
selanjutnya beliau membacakan ayat Al Quran surat 41:1-2. “(Alquran) Diturunkan dari Tuhan Yang Maha Pemurah lagi
Maha Penyayang, Kitab yang dijelaskan ayat-ayatnya, yakni bacaan dalam bahasa Arab, untuk kaum yang mengetahui, yang membawa berita gembira dan yang membawa peringatan, tetapi kebanyakan mereka berpaling, tidak mau mendengarkan. “.
dikesempatan yang lain, beliau menjawab permintaan pamannya untuk berhenti mengajak orang ke Islam. Beliau menjawab dengan tegas “Saya bersumpah atas nama Allah, ya paman, jika mereka meletakkan matahari di tangan kanan saya dan bulan di tangan kiri saya supaya berhenti dari usaha ini (mengajak orang ke Islam), saya tidak akan pernah berhenti sampai Allah memberikan kemenangan atau meninggal karena mempertahankannya”.

Nabi Muhammad dan para sahabatnya tidak hanya mendapatkan ancaman, tetapi juga usaha pembunuhan. Setelah mencapai kejayaan, hal tersebut tidak membuat lupa diri. Kehidupannya yang sederhana, beliau menunjukkan bahwa kehidupannya yang agung itu adalah pertolongan dari Allah SWT, bukan sekedar karena kejeniusannya sendiri.
Apakah disana ada karakter haus kekuasaan atau sifat mementingkan diri sendiri ?

-the end-

Reference :
http://www.islam-guide.com

….
….
semoga muncul pemimpin-pemimpin di Indonesia yang meneladani kepemimpinan dan kehidupan Nabi Muhammad SAW, yang mementingkan kepentingan rakyatnya diatas kepantingan pribadi dan golongannya, yang akan menjaga kedaulatan NKRI.

semoga muncul pemimpin-pemimpin muslim yang gagah berani, yang akan menjaga kedaulatan Negeri Para Nabi (Palestina), kenapa mereka (negeri di sekitarnya)  tidak berani membela ? mereka kan kaya raya, apakah mereka lebih memilih ‘matahari’ dan ‘bulan’ ditangannya daripada kedaulatan negeri para Nabi ? apakah ancaman penjajah dan sekutunya lebih ditakuti daripada api neraka ?

January 23 2008 – Winter Vacation,
Taipei City
High Speed Network Lab

Udin Harun

Comments are closed.

%d bloggers like this: