ReCharge Energy

I’tikaf dan kekuatan jiwa

Dalam perjalanan kehidupan ini manusia selalu membutuhkan dua hal,
pertama: Evaluasi diri untuk melihat sudah sejauhmana perjalanannya dan seperti apa harapan-harapan yang telah dicapainya,
yang kedua:mendapatkan energi untuk melanjutkan perjalanan dan harapan-harapan yang belum dapat dicapainya.
Kedua kebutuhan ini – Evaluasi diri dan mendapatkan energi- akan dapat kita penuhi ketika kita melakukan sebuah aktifitas dalam bentuk I’tikaf di Masjid. Inilah Rahasia mengapa I’tikaf menjadi sebuah aktifitas yang tidak pernah ditinggalkan oleh Rasul saw
sejak pertama kali disyariatkan puasa hingga beliau wafat. Maka dalam rangkaian ayat-ayat amaliah puasa yang Allah sebutkan dari ayat 183 – 187 dalam surah Al-Baqarah,I’tikaf menjadi salah satu amal yang prioritas untuk dilakukan selama Ramadhan.


Dalam kaitan fungsi evaluasi diri,sesungguhnya waktu I’tikaf adalah moment yang sangat tepat untuk kembali merekonstruksi perjalanan hidup kita untuk satu tahun kedepan,karena disaat inilah kita terlepas dari segala aktifitas dunia dan konsentrasi melakukan ibadah dan perenungan-perenungan perjalanan hidup , karena antara aktifitas taqarub kepada Allah dan perenungan-perenungan diri ada kaitan yang sangat erat
, yaitu bahwa manusia ketika melakukan ibadah yang intens akan memiliki kelembutan jiwa dan ketika jiwanya lembut maka dia akan lebih mudah untuk menyadari kondisi dirinya dan melakukan perbaikan atas kekurangan dan kesalahan-kesalahannya selama ini , inilah yang telah di isyaratkan oleh Allah swt “Wahai orang-orang beriman.!bertaqwallah kepada Allah dan hendaklah setiap orang memperhatikan apa yang telah dipersiapkan untuk hari esok(akherat),dan bertaqwalah kepada Allah,sungguh Allah maha teliti terhadap apa yang kamu kerjakan”.(QS.Al-Hasyr (59):18)
Dan dalam kaitan mendapatkan energi,I’tikaf merupakan waktu yang penuh dengan hari dan malam yang istimewa karena di malam-malam dan hari-hari ini orang yang melakukan I’tikaf akan memiliki intensitas ibadah yang luar biasa,dalam bentuk istigfar,tasbih,tahmid tilawah dan berbagai macam ketaatan yang lain dan ini merupakan modal energi dan kekuatan yang sangat luar biasa , karena aktifitas ini akan berpengaruh kepada penambahan kekuatan dan energi dari Allah SWT. “Hai kaumku, mohonlah
ampun kepada Tuhanmu lalu bertobatlah kepada-Nya, niscaya Dia menurunkan hujan yang sangat deras atasmu, dan Dia akan menambahkan kekuatan kepada kekuatanmu, dan janganlah kamu berpaling dengan berbuat dosa.”
(QS Huud:52).

I’tikaf dan lailatul Qadar
Dalam bahasan para Ulama salah satu alasan mengapa Rasul saw dan para shahabat begitu sangat semangat dan antusias melakukan I’tikaf , yaitu dalam rangka meraih Lailatul Qadar. Karena kaitan antara I’tikaf dan
lailatul qadar begitu sangat erat dari sudut pandang anugerah dan waktu. Dari sudut anugerah lailatul qadar merupakan sesuatu yang berharga yang harus diraih dan didapatkan, dari sudut waktu lailatul qadar merupakan moment yang harus diisi karena malam itu malam yang diistimewakan dari malam-malam yang lain. Diantara anugrah besar yang Allah swt berikan kepada kaum muslimin pada malam itu adalah anugerah penentuantaqdir-taqdir manusia untuk satu tahun kedepan (Tafsir Ibnu Katsir Juz 4 hal 137-138),Allah swt berfirman “Sesungguhnya kami menurunkan Al-Quran pada malam yang diberkahi,sungguh Kamilah yang memberi peringatan. Pada malam itu dijelaskan segala urusan dengan penuh hikmah”(QS.Ad-Dukhon:3-4). Tentunya akan sangat berbeda penentuan taqdir
Allah swt kepada orang-orang yang pada malam tersebut mengisi waktunya dengan taqarrub dan ketaatan dengan orang yang disibukan dengan dunia , Allah swt pasti lebih suka orang yang beribadah dari pada orang yang lalai dan bermaksiat kepadanya pada saat DIA menentukan taqdir-taqdir-Nya.

Material dan Spritual

Permohonan dan munajat yang diajarkan oleh Baginda Rasul yang harus kita
perbanyak adalah permohonan yang bersifat spiritual berupa pencerahan jiwa bukan sesuatu yang material-harta,jabatan dan hal-hal duniawi lainnya-,karena terlalu sederhana apabila kita hanya mengharapkan berkah yang bersifat material. Untuk itu ketika Ummul Mu’minin Aisyah ra, bertanya kepada Rasul saw apa yang harus dibaca apabila mendapatkan Lailatul Qadar? Maka Rasul saw menjawab : bacalah “ Allahumma innaka afuwun tuhibbul afwa fa’fu ‘anni” artinya “Ya Allah Engkau Pemberi ampun dan maaf maka ampuni dan maafkanlah aku”(HR.Imam Ahmad,Turmudzi dan Ibnu Majah). Ketika seseorang mendapatkan ampunan maka ia akan mendapatkan kejernihan dan pencerahan jiwa,hal inilah yang akan melahirkan jiwa-jiwa yang sensitive yang selalu mengevaluasi diri dan meraih energi-energi dari Allah swt. Selamat mendapatkan!. Wallahu A’lam.

By H.Abdul Rahman,Lc.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: